Masalahnya, pembaca, aku lahir oleh udara dengan jutaan kekuatan yagn mengejekku selalu untuk meruntuhkan langit. Di manakah bumi tak berdebu. Adakah langit biru selalu? Kuhitung siang dan malam dengan irama jantungku. Aku maju menatap langkahmu. Darahku bergolak. Ingin kuraup seluruh kerak bumi dan menimpukkannya di kuasa langitmu.
Ketika jabatan telah memilihnya, sang tokoh bolak-balik di arena gelandangan raya. Menjadi santri yang menapaki takdir Ilahiyah, menjalanakn amanah di sela nafas jutaan jemaah. Bersamah tasbih kotaknya, ia terus berputar dalam wirid yang khusyuk. Menggetar, menyahdu, meerasuk ke ulu-rindu.
Dan akhirnya, memang aneh seorang sarjana Tafsir-Hadits, bisa-bisanya mengurus pelabuhan. Kalau sekedar khutbah dan ceramah agama di lingkungan pekerja perkapalan, boleh jadi sudah biasa dan banyak oran gmampu melakukannya. Tapi menjadi pegawai yang berdinas mengurus kapal-kapal raksasa di kota pelabuhan transhipment, pariwisata dan perdagangan itu merupakah hil yang mustahal.